loading…
Nono Suwarno, Co Founder Ruang Gerak. Foto/Dok.Pribadi
Co Founder Ruang Gerak
INSIDEN Untuk sebuah dialog Monitor nasional mengenai sound horeg beberapa waktu lalu menjadi cermin buram betapa rapuhnya pilar penyeru kepentingan umat Islam Di Tanah Air. Seorang warga awam tanpa beban menuding Majelis Ulama Indonesia (MUI) Didalam kata-kata kasar lantaran Menerbitkan fatwa haram Di Trend Populer tersebut.
Kendati pelaku akhirnya meminta maaf, peristiwa ini menjadi indikator mengkhawatirkan tentang merosotnya wibawa lembaga perwakilan Islam. Padahal, MUI dihuni Dari figur-figur Didalam kapasitas keilmuan dan moral yang mumpuni.
Skeptisisme publik serupa makin riuh Di media sosial Pada menyoroti Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Kepercayaan publik Di ormas Islam terbesar ini terus tergerus akibat turbulensi internal, polemik konsesi tambang, hingga redupnya peran kritis PBNU Untuk diskursus politik kebangsaan lima tahun terakhir.
Situasi ini diperparah Dari dugaan Tindak Kejahatan Penyalahgunaan Jabatan yang menyeret kader utamanya. Alhasil, umat Islam seolah berjalan sendirian Berusaha Mengatasi himpitan persoalan sehari-hari tanpa artikulator sosial-politik yang efektif dan tegar Di Di tarik-Menarik Perhatian kekuasaan.
Di sisi lain, Untuk kalkulasi kekuasaan Didalam era Ke era—termasuk pemerintahan Prabowo Subianto—elemen Islam acap kali sekadar ditempatkan sebagai ornamen politik. Islam dirangkul sebatas instrumen insentif elektoral atau stempel legitimasi Aturan, alih-alih dijadikan sumber inspirasi etik pengelolaan Bangsa.
Artikel ini disadur –> Sindonews Indonesia News: Mendamba PKB sebagai Muazin Kepentingan Umat











