loading…
Diskusi publik bertajuk Literatur Murah dan Akses Ilmu Pengetahuan sebagai Hak Dasar Warga Negeri Ke Ruang Literasi Kaliurang, Yogyakarta, Kamis (6/8/2026). Foto/Ist
Hal itu terlihat Bersama banyaknya toko Literatur dan penerbit yang berhenti beroperasi Di beberapa tahun terakhir. “Ini bermula Bersama Kejadian Luar Biasa toko Literatur tutup dan penerbit tutup,” kata Willy Di diskusi publik bertajuk “Literatur Murah dan Akses Ilmu Pengetahuan sebagai Hak Dasar Warga Negeri” Ke Ruang Literasi Kaliurang, Yogyakarta, Kamis (6/8/2026).
“Ketika Gunung Agung tutup, kita tentu sedih. Banyak juga toko Literatur Ke Lokasi yang gulung tikar. Bersama situ kami memeriksa, ternyata ada masalah fundamental Di ekosistem perbukuan kita,” sambungnya.
Diskusi tersebut juga Menampilkan sastrawan dan sosiolog Okky Madasari serta Sekretaris Anggota Wantimpres 2019-2024 Jan Prince Permata. Menurut Willy, salah satu persoalan mendasar Di Aturan perbukuan nasional adalah adanya pemisahan perlakuan Di Literatur teks pelajaran dan Literatur nonteks atau Literatur bacaan umum.
Negeri, kata Willy, Memberi Bantuan Pemerintah Di jumlah besar Untuk Literatur pelajaran, tetapi menyerahkan penyediaan Literatur umum sepenuhnya kepada mekanisme pasar. Situasi tersebut menyebabkan harga Literatur bacaan Lebihterus sulit dijangkau Komunitas.
Artikel ini disadur –> Sindonews Indonesia News: RUU Sistem Perbukuan Segera Dibahas Ke Baleg Dewan Perwakilan Rakyat, Willy Aditya: Literatur Itu Minuman Otak











