Wisata  

Kenaikan Avtur-Permintaan Lesu, Thai Airways Pangkas Penerbangan



Jakarta

Maskapai nasional Thailand, Thai Airways, Akansegera Mengurangi dan membatalkan lebih Di 46 penerbangan Di Mei 2026. Penyesuaian itu diterapkan buat rute domestik dan internasional.

CEO Thai Airways, Chai Eamsiri, mengatakan langkah tersebut diambil Bagi menyesuaikan operasional Bersama Situasi terkini. Ia menegaskan Aturan itu bukan penutupan rute secara permanen.

“Maskapai tetap beroperasi seperti biasa dan layanan Di semua rute tetap tersedia Bagi penumpang,” kata Chai dikutip Di The Nation, Minggu (26/4/2026).


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia menjelaskan keputusan tersebut dipengaruhi Dari Fluktuasi Harga energi yang mengakibatkan permintaan perjalanan turun. Ketidakpastian ekonomi dan meningkatnya biaya hidup membuat Kandidat penumpang cenderung menunda perjalanan, Supaya tingkat pemesanan Di sejumlah penerbangan masih rendah, terutama menjelang keberangkatan.

Maskapai melakukan penyesuaian jadwal guna Memperbaiki efisiensi. Penerbangan Bersama banyak Bangku kosong dikurangi, Sambil beberapa layanan digabungkan. Penumpang tetap Memperoleh pilihan perjalanan dan dapat mengubah jadwal penerbangan.

“Prinsip kami adalah menyeimbangkan kelayakan Usaha Bersama kenyamanan penumpang. Langkah pertama adalah mengganti pesawat berkapasitas besar Bersama yang lebih kecil,” kata dia.

“Jika diperlukan, frekuensi penerbangan Akansegera dikurangi, misalnya Di setiap hari menjadi lima kali seminggu atau menggabungkan penerbangan Bersama tingkat pemesanan rendah agar tidak membakar bahan bakar secara sia-sia. Pembatalan penerbangan adalah opsi terakhir,” kata Chai.

Secara total, pengurangan penerbangan yang dilakukan hanya Disekitar 4-5% Di keseluruhan jadwal Di Mei 2026 dan bersifat Sambil.
Perusahaan juga membentuk Regu khusus Bagi Meninjau situasi harian lintas divisi agar penyesuaian dapat dilakukan Bersama cepat.

Jika permintaan perjalanan kembali Menimbulkan Kekhawatiran, terutama Pada musim ramai, penerbangan Akansegera dikembalikan Di jadwal normal. Fluktuasi Harga bahan bakar menjadi faktor utama.

Sebelumnya akhir Februari 2026, harga bahan bakar aviasi berada Di kisaran USD 90 (Rp 1,5 juta) per barel, lalu melonjak hingga Disekitar USD 240 (Rp 4,1 juta) per barel atau hampir tiga kali lipat. Meski kini mulai turun, rata-ratanya masih Disekitar dua kali lebih tinggi dibanding Sebelumnya.

Situasi tersebut Mendorong maskapai memperketat pengelolaan biaya, termasuk menyesuaikan harga tiket sesuai biaya operasional. Chai menambahkan kinerja operasional Thai Airways Di kuartal pertama 2026 masih tergolong stabil.

Akan Tetapi, ia mengingatkan bahwa konflik Di Timur Ditengah Berpotensi Bagi menekan industri penerbangan Internasional jika berlangsung sepanjang tahun. Thai Airways Mengungkapkan Akansegera terus Meninjau perkembangan dan menyesuaikan strategi Bagi menjaga stabilitas Usaha Di Di.

(upd/fem)


`;
constructor() {
super()
this.attachShadow({ Gaya: “open” })
this.shadowRoot.innerHTML = TentangPenulis.html
}

async connectedCallback() {

if (elementType === ‘single’) return false;

const { default: Swiper } = await import(

);
this.SwiperClass = Swiper;
const swiperContainer = this.shadowRoot.querySelector(‘.mySwiper’);
new this.SwiperClass(swiperContainer, {
slidesPerView: 1,
spaceBetween: 18,
navigation: {
nextEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-next”),
prevEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-prev”),
},
pagination: {
el: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-pagination”),
clickable: true,
},
});
}
}
customElements.define(elementTemplate, TentangPenulis)

Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Kenaikan Avtur-Permintaan Lesu, Thai Airways Pangkas Penerbangan

พัฒนาทักษะการเล่นของคุณไปกับ PG SLOT เพื่อเรียนรู้ฟีเจอร์ใหม่ๆ ก่อนใครได้แล้ววันนี้