Pernyataan Selebriti Instagram yang menyebut tuberkulosis (TBC) bisa dicegah hingga diobati Bersama herbal viral Hingga media sosial. Mantan Direktur Gangguan Menyebar Organisasi Kesejajaran Dunia atau World Health Organization (WHO) Prof Tjandra Peregangan Aditama, angkat bicara dan mengingatkan bahaya informasi menyesatkan tersebut.
Hingga Pada ini Perawatan TBC harus menggunakan Terapi anti tuberkulosis (OAT) yang telah terbukti secara ilmiah.
Tjandra menjelaskan, OAT yang digunakan Hingga berbagai Bangsa, termasuk Indonesia, telah Lewat proses Studi panjang dan ketat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Dimulai Untuk uji klinis double blind case control trial, Lalu dilanjutkan multi center study Hingga berbagai Bangsa, hingga dianalisis Dari para pakar internasional Hingga WHO dan masing-masing Bangsa,” jelasnya.
Bersama proses tersebut, validitas ilmiah OAT dinilai sangat tinggi dan dapat dipertanggungjawabkan. Tak hanya Untuk sisi Studi, OAT juga telah digunakan Di bertahun-tahun Hingga berbagai Bangsa dan terbukti mampu mencapai angka kesembuhan yang diharapkan.
Hal ini berbeda Bersama klaim penggunaan herbal yang, hingga kini, belum Memiliki bukti ilmiah kuat Sebagai mencegah maupun mengobati TBC.
“Kalau ada klaim Terapi bermanfaat, tentu harus mengikuti kaidah ilmu pengetahuan,” tegasnya.
Herbal belum terbukti secara ilmiah
Tjandra menekankan, sampai Pada ini belum ada Studi yang membuktikan bahwa Terapi herbal tertentu efektif Sebagai mencegah atau menyembuhkan TBC.
Lantaran itu, Kelompok diminta tidak mudah percaya Di klaim yang belum teruji secara ilmiah. Informasi yang menyesatkan dapat berdampak serius jika pasien menghentikan Perawatan OAT.
Menurutnya, ada tiga risiko besar:
- Penyakit tidak sembuh
- Situasi makin berat hingga berisiko kematian
- Penularan Hingga orang Disekitar tetap terjadi
Hingga Di Itu, penghentian atau penggantian OAT Bersama terapi yang tidak tepat juga bisa memicu resistensi Terapi, Malahan berkembang menjadi Peristiwa Pidana Hukum kebal Terapi atau multi drug resistance (MDR).
Tjandra mengimbau Kelompok Sebagai selalu merujuk informasi Kesejajaran Untuk sumber resmi seperti WHO, Kementerian Kesejajaran, maupun organisasi profesi seperti Perhimpunan Ahli Kebugaran Paru Indonesia (PDPI).
“Kesejajaran adalah aset yang sangat berharga, Supaya penanganannya harus dilakukan secara tepat dan berdasarkan bukti ilmiah, bukan sekadar informasi sesaat,” pungkasnya.
Halaman 2 Untuk 2
Simak Video “Video: PR Dinkes Jakarta Temukan 70 Ribu Peristiwa Pidana Hukum TBC hingga Akhir 2025 “
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Mantan Pejabat WHO Sentil Selebriti Instagram yang Ramai Sebut TBC Bisa Dicegah Pakai Terapi Herbal











