PR Besar Penanganan Kanker Anak Di Indonesia, Kebutuhan SDM hingga Fasilitas

Jakarta

Ikatan Praktisi Medis Anak Indonesia (IDAI) berbicara soal tantangan penanganan kanker Di Indonesia. Salah satunya adalah temuan Tindak Kejahatan kanker anak yang masih rendah.

Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Hemato Onkologi Ikatan Praktisi Medis Anak Indonesia (IDAI), dr Eddy Supriyadi, SpA, SubspHOnk(K), PhD menjelaskan Untuk 11-12 ribu Tindak Kejahatan kanker anak Terbaru tiap tahun Di Indonesia, yang ditemukan bisa kurang Untuk separuhnya atau Di 4 ribu – 4.500 Tindak Kejahatan.

Mengapa hal ini bisa menjadi tantangan besar? Pertama, menurut dr Eddy kebutuhan Praktisi Medis Untuk kanker anak masih belum cukup. Terlebih, distribusi Praktisi Medis kanker anak juga masih belum baik.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“SDM kita memang kurang dibanding Bersama jumlah penduduk. Kedua, sudah kurang, distribusinya juga tidak merata, hanya terpusat Di sentral-sentral Di pulau Jawa,” cerita dr Eddy ketika dihubungi detikcom beberapa waktu lalu.

Sesudah Itu ada beberapa faktor pendukung lain yang harus dipenuhi agar penanganan kanker anak berjalan lebih baik. Misalnya, Di pemenuhan fasilitas transfusi darah, Praktisi Medis multidisiplin Di sebuah fasilitas Kesejaganan, ahli Pediatric Intensive Care Unit (PICU), ahli Infeksi anak, dan lain-lain.



Sesudah Itu, dr Eddy juga menyebut diperlukan standarisasi formal penanganan kanker anak yang lebih matang Di Indonesia. Bersama Langkah Tersebut, kanker anak bisa ditangani Bersama baik.

“Mengelola kanker anak itu tidak hanya menyediakan sumber daya dan obatnya saja, kita juga harus memikirkan tempat Perawatan Medis, itu harus khusus, Untuk anak itu secara fisik dan psikologis kan,” sambungnya.

Ira Soelistyo, Pendiri dan Ketua YKAKI (Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia) menambahkan salah satu peran penting yang dibutuhkan adalah perawat onkologi anak. Menurutnya, jumlah perawat onkologi anak masih sangat kurang.

“Sangat disayangkan bila dokternya sudah canggih tetapi perawatnya masih perawat umum, Dari Sebab Itu sering nggak nyambung Untuk menangani pasien anak kanker, ini juga menjadi concern kami sebagai organisasi orang tua pengidap,” ujar Ira.

Praktisi Medis anak subspesialis hemato-onkologi dr Stefanus Gunawan, SpA SubspHO berbicara soal penanganan kanker anak Di luar Jawa-Bali. Di Di ini, dr Stefanus menjalani praktik penanganan kanker anak Di RSUP Prof Dr RD Kandou, Manado, Sulawesi Utara.

Ia mengungkapkan Di Umumnya pelayanan kanker anak Di luar Jawa-Bali, masih Memiliki banyak keterbatasan. Beberapa Di antaranya seperti fasilitas yang terbatas hingga subspesialis yang belum merata.

Hal ini membuat sebagian Untuk Tindak Kejahatan kanker anak Di Daerah kecil harus dirujuk Hingga pulau Jawa.

“Sebagai contoh, Di Manado itu cuma ada dua (Praktisi Medis hemato onkologi anak). Sebenarnya tiga, tapi satu Terbaru lulus, dan satu purna bakti, Dari Sebab Itu tinggal dua. Di seluruh Sulawesi ada dua Di Manado dan dua Di Makassar,” cerita dr Stefanus.

Situasi ini membuat risiko keterlambatan penanganan kanker anak menjadi lebih besar, padahal pasien memerlukan penanganan secepatnya Untuk Memperbaiki angka kesembuhan.

Kendala lain Di Daerah yang ditemukan adalah penerimaan orang tua Yang Berhubungan Bersama diagnosis yang rendah. Sebagian orang tua merasa ‘tidak terima’ Bersama diagnosis tersebut, hingga menolak Perawatan Medis Untuk Praktisi Medis dan sebagian memilih alternatif.

Ia berharap nantinya fasilitas pendukung penanganan kanker anak bisa terus ditingkatkan. Termasuk bagaimana pemerataan tenaga medis Di Daerah luar Jawa-Bali. Ia juga mengingatkan pentingnya Keadaan tenaga Kesejaganan.

“Praktisi Medis itu juga manusia, Praktisi Medis juga punya Rumah tangga yang harus dihidupi. Kalau cuma dokternya disuruh Hingga sana kemari Hingga pelosok, tapi tidak ditunjang fasilitasnya maupun Untuk penghidupannya juga berat buat dokternya,” tambahnya.

Direktur Medik dan Keperawatan RS Kanker Dharmais, dr Reni Wigati, SpA mengungkapkan penanganan kanker anak harus dilakukan secara komprehensif dan multi disiplin. Tiap jenis kanker anak Memiliki karakteristik dan kebutuhan terapi yang berbeda.

Ia memastikan tatalaksana multidisiplin yang diterapkan Di RS Kanker Dharmais Akansegera berjalan Bersama baik. dr Reni mengungkapkan pasien harus menjadi prioritas utama Untuk penanganan kanker anak.

“Prinsip utama kami adalah Menyediakan terapi yang efektif Akan Tetapi tetap memperhatikan Mutu hidup anak,” ujar dr Reni Di detikcom.

Untuk Memperbaiki layanan, pihak RS Kanker Dharmais terus melakukan pelatihan internal Untuk tenaga Kesejaganan. Studi Hingga pusat pelayanan kanker Di luar negeri juga terus dilakukan.

Sesudah Itu RS Kanker Dharmais juga terus Memperbaiki Pembelajaran Di Komunitas soal kesadaran kanker anak. Bersama begini, deteksi kanker anak bisa lebih baik.

Komitmen Kemenkes Untuk Mengatasi Kanker Anak

Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesejaganan (Kemenkes) RI, Siti Nadia Tarmizi mengungkapkan Di Di ini pihaknya Akansegera Memusatkan Perhatian Di penerapan Wacana Unjuk Rasa Nasional (RAN) kanker anak 2025-2029. Diharapkan target penurunan kesembuhan kanker anak nantinya bisa dikejar Lewat Inisiatif tersebut.

“Melaksanakan sesuai Bersama apa yang sudah direncanakan Lantaran Untuk RAN sudah diidentifikasi upaya-upaya yang dilakukan termasuk percepatan bila memungkinkan,” ungkap Nadia beberapa waktu lalu Di detikcom.

Untuk kesempatan terpisah, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman mengungkapkan sederet strategi yang disiapkan Kemenkes Untuk mengatasi masalah kanker anak.

Misalnya, Bersama Memperbaiki promosi Kesejaganan Yang Berhubungan Bersama kanker anak, melakukan penunjukkan 15 Fasilitas Medis tingkat paripurna Untuk rujukan kanker anak, hingga pelatihan dan Pembelajaran berkelanjutan Dari Fasilitas Medis pengampu.

“Pembentukan Regu multidisiplin, kerjasama kolaborasi bilateral, perbaikan. Fasilitasi kanker anak Di gedung khusus ibu dan anak, penyusunan standar paliatif Di layanan rujukan,” kata Aji Di detikcom.

Berkaitan Bersama ketersediaan Terapi, Aji mengaku pihaknya Akansegera terus melakukan kerjasama Bersama industri Terapi. Di Itu, Kemenkes juga bakal Meninjau ketersediaan Terapi Bersama sistem online serta memastikan Pendesainan Terapi Di Fasilitas Medis secara akurat.

“Fasilitas Medis rujukan nasional sudah mulai berkoordinasi Bersama Fasilitas Medis lain Di berbagai Daerah sebagai Dibagian Untuk implementasi. Koordinasi Bersama organisasi profesi Praktisi Medis dan perawat sudah diinisiasi Untuk struktur Praktisi Medis sebagai pemangku kepentingan utama Untuk penguatan layanan dan persatuan perawat Untuk upaya Dukungan Di unit layanan Kesejaganan,” tandasnya.

Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: PR Besar Penanganan Kanker Anak Di Indonesia, Kebutuhan SDM hingga Fasilitas

พัฒนาทักษะการเล่นของคุณไปกับ PG SLOT เพื่อเรียนรู้ฟีเจอร์ใหม่ๆ ก่อนใครได้แล้ววันนี้