Magelang –
Pohon randu alas berukuran raksasa yang menjadi ikon Desa Tuksongo, Borobudur itu batal ditebang. Alasannya, pohon berusia ratusan tahun itu mau diteliti.
Eksperimen itu Akansegera dilakukan Bersama Skuat Bersama Pemkab Magelang. Sebagai informasi, sudah sempat digelar Peristiwa selamatan Bersama 7 ingkung dan 9 jenang warna merah putih Sebelumnya pohon raksasa ini Akansegera ditebang.
Pohon raksasa itu juga sudah dipasangi tali tambang atau sling, dan ranting Di Pada bawahnya sudah dipangkas. Akan Tetapi kedatangan Skuat Bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) tiba Di lokasi membuat Peristiwa penebangan itu batal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Bersama pemkab Skuat itu tiba, para pekerja Untuk beristirahat. Sambil Itu, hujan deras mengguyur Daerah Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang.
“Karena Itu Sambil Itu pemotongan randu alas ditunda. Sebab Bersama Skuat Pak Bupati pengin mempelajari atau meneliti, apakah pohon randu masih bisa diselamatkan atau tidak,” kata Kepala Desa Tuksongo M Abdul Karim, Senin (12/1/2026).
“Karena Itu, misalkan masih bisa diselamatkan, kemungkinan besar besok nggak Karena Itu ditebang. Hanya saja, Mungkin Saja ranting-rantingnya yang rapuh dibersihkan,” sambung Karim.
Karim mengatakan nasib randu alas itu bakal bergantung Bersama hasil Eksperimen Skuat Pemkab Magelang. Nantinya, jika dipastikan pohon randu alas itu sudah mati, maka Akansegera ditebang.
“Tapi, misalkan kok memang hasil penelitiannya sudah mati atau rapuh, kemungkinan dilanjutkan penebangan besok atau hari Lanjutnya,” tegas Karim.
Kepala Bidang Pengelolaan Keanekaragaman Hayati dan Kearifan Lokal (PKKLH) Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Magelang, Joni Budi Hermanto, mengatakan pengecekan secara detail Bersama perakaran Di bawah, Setelahnya Itu ranting-ranting. Setelahnya Itu Untuk cabang pohon bakal dipangkas.
“Itu Menunjukkan tanda-tanda kehidupan sudah tipis. Masih ada tadi Di Pada bawah, bonggol ada tunas Mutakhir yang muncul. Tapi, Untuk keselamatan, saya menyarankan Untuk cabang-cabang tetap dilakukan perabasan,” kata Joni.
“Kita tunggu Setelahnya perabasan itu, kira-kira 3 sampai 4 bulan. Kalau masih bisa tumbuh lagi tunas, berarti masih bisa dipertahankan. Tapi, sekali lagi saran saya cabang-cabang yang mengarah Hingga User jalan ataupun para wisatawan (dilewati wisatawan) tetap diamankan,” tambah Joni.
Perihal ramai Di media sosial yang menyebutkan ada darah yang keluar Bersama pohon randu alas, Joni menegaskan hal itu bisa dicek Melewati Google. Dia menyebut itu adalah getah randu alas bukan Yang Terkait Bersama hal mistis.
“Kalau randu alas merah ini memang getahnya berwarna merah. Karena Itu bukan Sebab kejadian mistis atau darah, itu bukan,” tegasnya.
“Itu, memang jenis getah randu alas merah seperti sonokeling juga merah. Setelahnya Itu sengon Jawa itu juga merah. Sama, itu hanya getah biasa, bukan sesuatu mistis lagi,” pungkasnya.
——-
Artikel ini telah naik Di detikJateng.
(wsw/wsw)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Pohon Randu Raksasa Di Borobudur Itu Batal Ditebang, Kenapa?











