Wisata  

Makam Tak Biasa Pemilik Ajian Pancasona, ‘Tergantung’ Di Atas Tanah

Blitar

Di Blitar, ada sebuah makam yang bentuknya tidak biasa, seperti ‘tergantung’ Di atas tanah. Konon, makam itu merupakan pemilik ajian Pancasona.

Di balik hiruk-pikuk kota Blitar yang terkenal sebagai tempat peristirahatan terakhir Proklamator Bung Karno, tersimpan sebuah legenda mistis yang menyelimuti sebuah Rumah tua Di Jalan Melati, Kepanjenkidul.

Tempat tersebut dikenal sebagai Pesanggrahan Djojodigdo, atau lebih populer Di telinga Kelompok Bersama sebutan ‘Makam Gantung’.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kompleks ini bukan sekadar bangunan kuno, melainkan saksi bisu kisah Patih Djojodigdo. Ia merupakan seorang tokoh sakti yang dipercaya menguasai ilmu Ajian Pancasona.

Di Layar Lebar-Layar Lebar pendekar zaman dulu, ajian Pancasona adalah sebuah ilmu kesaktian yang sering disamakan Bersama Aji Rawa Rontek Untuk cerita rakyat.

Pemilik ajian ini diyakini tidak bisa mati Di tubuhnya menyentuh tanah. Kepercayaannya, selagi tubuh sang pemilik ajian menyentuh tanah, maka dia tidak Berencana bisa mati dan Berencana hidup kembali.

Legenda Eyang Digdo, Pemilik Ajian Pancasona

Sosok utama Di balik legenda ini adalah Mas Ngabehi Bawadiman Djojodigdo, atau akrab disapa Eyang Digdo. Ia bukan orang sembarangan.

Dilansir Untuk laman detikJatim, dia lahir Di Kulon Progo Di 29 Juli 1827 Di Pertempuran Diponegoro berkecamuk. Eyang Digdo disebut Memperoleh darah bangsawan Yogyakarta.

Ia merupakan pengikut setia Pangeran Diponegoro yang Setelahnya Itu melarikan diri Ke arah timur hingga sampai Di Blitar. Di Kota Proklamator ini, Eyang Digdo diangkat menjadi Patih Di 8 September 1877.

Kesaktiannya menjadi buah bibir Kelompok, terutama Sebab kemampuannya mengalahkan Belanda menggunakan kecerdikan dan kesaktian yang didapat Untuk laku tirakat. Mitos yang paling kuat beredar adalah mengenai kematiannya.

Sebab menguasai Ajian Pancasona, konon jika jasadnya menyentuh tanah, ia Berencana hidup kembali. Hal inilah yang memicu kepercayaan bahwa jasad Eyang Digdo tidak dikuburkan Di Untuk tanah, melainkan “digantung” agar tidak bangkit lagi.

Akan Tetapi, realitas fisik makam tersebut sebenarnya tidaklah benar-benar melayang Di udara, Sebab tidak Mungkin Saja Sebagai dilakukan secara fisika.

Fakta Di Balik Makam Gantung Eyang Digdo

Kendati disebut Makam Gantung, peziarah yang datang tidak Berencana menemukan peti mati yang bergelantungan Bersama tali. Makam Eyang Digdo sebenarnya berada Di atas tanah, Akan Tetapi Bersama posisi nisan yang dibangun lebih tinggi dibandingkan makam Di umumnya.

Pondasi lantainya setinggi 50 cm Bersama bangunan dasar berundak setinggi 1 meter. Juru Kunci makam Lasiman menjelaskan sebutan ‘Makam Gantung’ sebenarnya merujuk Di benda-benda pusaka milik Eyang Digdo.

Makam gantung Di Blitar Foto: Erliana Riady

Sebab kesaktiannya, baju kebesaran dan senjata-senjata pusakanya lah yang digantung Di atas pusaranya, bukan jasadnya.

Meski demikian, aura mistis tetap terasa kental. Struktur cungkup makam yang unik seringkali menciptakan ilusi visual seolah-olah makam tersebut menggantung.

Aturan Tak Tertulis Sebagai Pengunjung

Memasuki area Pesanggrahan Djojodigdo, pengunjung Berencana disambut suasana yang wingit. Kompleks ini terdiri Untuk pekarangan luas yang Di dalamnya terdapat Rumah induk, makam, sumur tua, dan pepohonan rimbun seperti pohon dewandaru dan nagasari yang dipercaya Memperoleh tuah.

Dikutip jurnal “Legenda Arena Patih Djojodigdo Di Kota Blitar (Studi Cerita Rakyat)” yang ditulis Bersama Desinta Ningtyas dan Sri Wahyu Widayati, ada aturan ketat Bagi siapa saja yang ingin berziarah.

Pengunjung diwajibkan melepas alas kaki (sandal atau Sandalku) sebagai bentuk penghormatan kepada Eyang Digdo. Di Itu, terdapat larangan membakar dupa.

Sebagai gantinya, peziarah disarankan membawa kembang telon wangi dan telur ayam kampung. Kelompok percaya Pelanggar Pada aturan ini mendatangkan bala, seperti kisah seorang pencuri pagar besi makam yang konon Menyaksikan kelumpuhan hingga akhir hayatnya.

Filosofi Ta Pitu

Akan Tetapi, warisan Eyang Digdo bukan hanya soal klenik. Ia mewariskan filosofi hidup yang disebut Ta Pitu kepada keturunannya dan Kelompok Blitar. Ketujuh ajaran tersebut adalah sebagai berikut.

Tata: Mengetahui aturan dan sopan santun.
Titi: Teliti dan hati-hati Untuk bertindak.
Tatag: Berani dan bertanggung jawab (mental baja).
Titis: Tepat Untuk analisa dan Prakiraan.
Temen: Bersungguh-sungguh dan jujur (gemi).
Taberi: Rajin dan tidak malas.
Tlaten: Sabar dan tekun Untuk Melakukanlangkah-Langkah.
Hingga kini, setiap tanggal 1 bulan Ruwah, diadakan Kebiasaan Haul Eyang Patih Djojodigdo yang melibatkan Kelompok Di Bersama sajian wajib berupa ingkung ayam jago utuh dan sega gurih.

Kebiasaan ini menjaga nama Eyang Digdo tetap hidup, bukan sekadar sebagai pemilik Ajian Pancasona atau Rawa Rontek, tetapi sebagai leluhur yang dihormati Di tanah Blitar.

——–

Artikel ini telah naik Di detikJatim.

Halaman 2 Untuk 2

Simak Video “Video: Heboh Makam Di Serang Dibongkar Orang Tak Dikenal, Jenazah Hilang

(wsw/wsw)





Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Makam Tak Biasa Pemilik Ajian Pancasona, ‘Tergantung’ Di Atas Tanah