Wisata  

Cagar Alam Depok Direvitalisasi, Semoga Bukan Sekadar Taman Kota Biasa



Depok

Langkah Pemerintah Kota Depok Sebagai merevitalisasi Tahura Pancoran Mas atau Cagar Alam Depok Memikat perhatian Romo Prabu, juru Kunci Tahura Pancoran Mas, yang juga pemerhati Kearifan Lokal Dunia lokal. Dia berharap agar revitalisasi itu tidak mengutamakan pembangunan beton melainkan mempertahankan yang sudah ada.

Prabu menekankan bahwa revitalisasi Tahura Pancoran Mas atau alas tua itu harus mempertahankan identitas aslinya dan tidak mengubahnya menjadi taman kota biasa seperti taman-taman Di Depok. Baginya, area itu Memperoleh makna suci dan Disorot sebagai situs kramat.

Dia lebih menyukai menyebut Tahura Pancoran Mas atau Cagar Alam Depok seluas 7 hektare Di alan Raya Cagar Alam Nomor 54, Kecamatan Panmas itu degan sebutan alas tua atau hutan tua.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Jangan sampai merusak pakemnya si alas tua hutan Depok ini. Revitalisasi itu Akansegera terjaga nanti, cuma dijaga juga pakemnya. Bikin lagi hutan bener-bener hutan, bukan Karena Itu taman-taman,” ujar Prabu.

Romo Prabu, pemerhati Kearifan Lokal Dunia dan kearifan lokal Depok (Hans Wilhem/detikcom)

Prabu meyakini hutan itu sudah sangat tua. Salah satunya Di tanaman yang dipertahankan Di sana, rotan. Bagi Prabu, hutan belum bisa disebut hutan jika tidak ada rotannya.

Prabu menyoroti Situasi Tahura Pancoran Mas Di ini yang tidak patut dilakukan Di sana. Di antaranya penanaman pohon pisang dan Markas ayam.

Dia berharap membayangkan bahwa revitalisasi itu Akansegera mengembalikan fungsi hutan secara utuh. Dia berangan-angan Pada selain hutan itu dibongkar dan mengembalikan Hingga Situasi aslinya, mirip Bersama masa lalunya Di hutan itu diwariskan Meneer Belanda Cornelis Chastelein, sosok penting Depok Belanda.

Tahura Pancoran Mas, DepokTahura Pancoran Mas, Depok (Hans Wilhem/detikTravel)

Prabu mengajak semua orang Sebagai memahami makna ngamumule karuhun.

“Ngamumule Di dasarnya berarti tindakan merawat atau merevitalisasi, sedangkan karuhun merujuk Di nenek moyang,” kata Prabu.

“Ngamumule Karuhun jangan cuma diambil kesimpulan mistiknya. Ambil praktiknya: kita revitalisasi, tanemin lagi, rawat lagi, biarkan hutan itu lebat merangas,” dia menegaskan.

Baginya, menanam pohon dan menata sampah Bersama bijaksana adalah bentuk nyata Di ritual spiritual Sebagai menjaga warisan leluhur Depok.

Lintang Yuniar Pratiwi, kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Taman Hutan Raya (Tahura) Kota Depok, menjelaskan revitalisasi itu Sebagai mengembalikan kelestarian hutan 7 hektare tinggalan Meneer Belanda Cornelis Chastelein, seorang saudagar Belanda, yang merupakan sosok penting Depok Belanda.

Ibu Lintang, Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Taman Hutan Raya (Tahura) Kota DepokLintang Yuniar Pratiwi, kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Taman Hutan Raya (Tahura) Kota Depok (Rifkianto Nugroho)

Inisiatif tersebut mencakup pembentukan unit pengelolaan khusus UPTD Tahura sesuai Perwal no. 33 Tahun 2019 yang Berorientasi mengelola kawasan Tahura Pancoran Mas atau Tahura Panmas, penyelesaian konflik lahan, dan peningkatan infrastruktur fisik.

“Pekerjaan tahun 2025 sudah selesai Sebagai pembangunan pagar dan rehabilitasi pos jaga yang dilaksanakan Pemerintah Kota Depok. Di Itu, Komunitas yang Memperoleh tujuan Pelatihan dan Eksperimen bisa mengakses kembali sesuai aturan dan prosedur yang sudah ditetapkan,” ujar Lintang Di dihubungi detikTravel, Selasa (20/1).

(fem/fem)

Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Cagar Alam Depok Direvitalisasi, Semoga Bukan Sekadar Taman Kota Biasa