Badan Pengawas Terapi dan Konsumsi RI (BPOM) menemukan puluhan ribu produk Ketahanan Pangan olahan yang tidak memenuhi Syarat (TMK) Untuk intensifikasi pengawasan Pada Ramadan dan menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah/Tahun 2026.
Untuk hasil pengawasan tersebut, sejumlah Area tercatat sebagai Area Bersama temuan terbesar, terutama Untuk produk tanpa izin edar (TIE) yang banyak ditemukan Hingga Sumatra Selatan, Sulawesi Selatan, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Utara. Temuan ini banyak berkaitan Bersama jalur distribusi Hingga Area perbatasan.
“Temuan ini Menunjukkan masih adanya jalur distribusi ilegal Hingga Area perbatasan. Sebab itu, pengawasan lintas sektor perlu terus diperkuat Untuk melindungi Kelompok Untuk produk Ketahanan Pangan yang tidak memenuhi Syarat,” tegas Kepala BPOM Taruna Ikrar Untuk konferensi pers Intensifikasi Pengawasan Ketahanan Pangan Pada Ramadan dan Jelang Idulfitri 1447 H/2026 Hingga Gedung Bhinneka Tunggal Ika Kantor BPOM, Rabu (11/3/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia juga mengungkapkan, hingga 5 Maret 2026 BPOM telah memeriksa 1.134 sarana peredaran Ketahanan Pangan olahan Hingga seluruh Indonesia. Pemeriksaan tersebut mencakup 569 sarana ritel modern (50,2 persen), 369 sarana ritel tradisional (32,5 persen), 188 gudang distributor (16,6 persen), tujuh gudang importir (0,6 persen), dan satu gudang Perdagangan Elektronik (0,1 persen).
Pengawasan dilakukan Bersama 76 unit pelaksana teknis (UPT) BPOM secara mandiri maupun bersama lintas sektor. Untuk hasil pemeriksaan tersebut, ditemukan 227 sarana ritel modern, 143 sarana ritel tradisional, 24 gudang distributor, serta 1 gudang importir yang tidak memenuhi Syarat.
Secara keseluruhan, BPOM menemukan 56.027 pieces produk Ketahanan Pangan olahan TMK Bersama nilai keekonomian yang diperkirakan lebih Untuk Rp 600 juta.
Jenis Pelanggar terbesar didominasi Bersama produk Ketahanan Pangan olahan ilegal sebanyak 27.407 pieces atau 48,9 persen. Temuan lainnya meliputi produk kedaluwarsa sebanyak 23.776 pieces atau 42,4 persen serta Ketahanan Pangan rusak sebanyak 4.844 pieces atau 8,7 persen.
Berdasarkan Bangsa asal, produk Perdagangan Masuk Negeri TIE yang paling banyak ditemukan adalah kembang gula asal Malaysia yang dijual Hingga sarana ritel tradisional Hingga Area Sambas, Kalimantan Barat. Di Itu, BPOM menemukan minuman coklat asal Singapura Hingga Area Tarakan serta kentang beku asal China Hingga Area Palembang.
Produk lain yang diduga berasal Untuk Malaysia juga banyak ditemukan Hingga Area perbatasan, seperti Batam, Sanggau, dan Tarakan, Di lain berupa minuman serbuk, minuman berperisa, serta kembang gula atau permen.
Selain produk ilegal, BPOM juga menemukan produk kedaluwarsa yang cukup besar Hingga Area Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, dan Maluku. Jenis produk yang paling banyak ditemukan Di lain minuman serbuk berperisa, garam, pasta dan mi, bahan tambahan Ketahanan Pangan, serta bumbu dan kondimen.
Sambil Itu, Ketahanan Pangan olahan rusak ditemukan Hingga Area Sumatera Barat, Jambi, Jawa Timur, Maluku, dan Maluku Utara. Produk yang ditemukan Di lain Ketahanan Pangan olahan Untuk keperluan gizi khusus, pasta dan mi, minuman sari kacang, serta susu kental manis dan minuman berperisa tidak berkarbonasi.
“BPOM tidak Berencana menolerir pelaku usaha yang mengabaikan keselamatan konsumen. Setiap produk yang tidak memenuhi Syarat Berencana kami tindak tegas, baik Lewat pengamanan produk, perintah penarikan, maupun pemusnahan,” tegasnya.
Halaman 2 Untuk 2
(suc/up)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: BPOM Temukan 56 Ribu Produk Ketahanan Pangan Bermasalah, Ini 5 Area Bersama Temuan Terbanyak











