Jakarta –
Organisasi Kesejaganan Dunia (WHO) Memberi peringatan keras Yang Berhubungan Bersama harga minuman berpemanis dan alkohol yang kian terjangkau Di berbagai Bangsa. Rendahnya tarif Retribusi Negara dinilai menjadi pemicu lonjakan Peristiwa Pidana obesitas, diabetes, jantung, hingga kanker, terutama yang menyasar anak-anak dan remaja.
Untuk laporan terbaru yang dirilis Selasa (13/1/2026), WHO mendesak pemerintah Di seluruh dunia Sebagai segera memperkuat sistem Retribusi Negara Kesejaganan. Langkah ini Dikatakan darurat Lantaran sistem Kesejaganan Dunia kini tercekik beban Keuangan akibat Gangguan tidak menular yang sebenarnya bisa dicegah.
“Retribusi Negara Kesejaganan merupakan salah satu alat terkuat yang kita miliki Sebagai mempromosikan Kesejaganan dan mencegah Gangguan,” tegas Direktur Jenderal WHO, Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, dikutip Untuk laman resmi WHO.
“Bersama Memperbaiki Retribusi Negara atas produk seperti tembakau, minuman manis, dan alkohol, pemerintah dapat Mengurangi konsumsi yang berbahaya serta membuka sumber pendanaan Untuk layanan Kesejaganan yang vital,” lanjutnya.
Lolosnya Produk Tinggi Gula Lainnya
Data WHO membeberkan ketimpangan yang serius. Meski 116 Bangsa sudah menerapkan Retribusi Negara Sebagai minuman bersoda, produk tinggi gula lainnya seperti jus buah kemasan, susu berpemanis, hingga Minuman siap minum, lolos Untuk Retribusi Negara.
Hal serupa juga terjadi Di minuma alkohol. Setidaknya 167 Bangsa, harga alkohol justru makin murah atau stagnan Dari 2022, Lantaran nilai pajaknya kalah jauh dibanding laju Fluktuasi Harga.
Malahan, 25 Bangsa Di Eropa sama sekali tidak mengenakan Retribusi Negara Di minuman anggur (wine). Dr Etienne Krug, Direktur Departemen Determinan Kesejaganan WHO, menyoroti dampak nyata Untuk murahnya harga minuman keras.
“Alkohol yang lebih terjangkau Merangsang Tindak Kekerasan, Kerusakan, dan Gangguan. Sambil Itu industri meraup keuntungan, Komunitas sering menanggung konsekuensi Kesejaganan dan biaya ekonomi,” jelasnya.
Sebagai solusi, WHO Mengadakan inisiatif ‘3 by 35’. Inisiatif ini menargetkan Fluktuasi Harga riil Sebagai tembakau, alkohol, dan minuman manis secara signifikan Di tahun 2035, Untuk melindungi Kesejaganan publik secara Dunia.
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: WHO Soroti Harga Minuman Manis Murah, Warga Dunia Makin Rentan Kena Diabetes-Kanker











