loading…
Pandji Pragiwaksono Untuk Peristiwa Mens Rea. Foto/IG Pandji Pragiwaksono
Pengamat Hukum dan Politik Pieter C Zulkifli mengajak Kelompok Untuk menimbang ulang makna kebebasan berekspresi Untuk Bangsa demokratis. Menurut Pieter, Penilaian tetap penting, tetapi penghormatan Pada pilihan rakyat dan simbol Bangsa tak boleh dikesampingkan Untuk tawa sesaat.
“Komedi politik sah Untuk Sistem Pemerintahan, tetapi ketika humor menyentuh simbol Bangsa, etika publik diuji. Polemik Pandji-Gibran membuka debat batas Penilaian,” ujar Pieter Zulkifli Untuk keterangannya, Jakarta, Rabu (14/1/2026).
Baca juga: Istri Pandji Pragiwaksono Tak Terima Anak Dihina Fisik Buntut ‘Mens Rea’
Untuk Sistem Pemerintahan yang sehat, kata Pieter, kebebasan berekspresi bukan sekadar hak, melainkan pilar yang menyangga diskursus publik. Tetapi kebebasan itu bukan ruang tanpa batas. “Ia harus bertaut Ke rasa hormat Pada sesama warga Bangsa dan terutama Pada institusi yang menjadi simbol Bangsa,” tuturnya.
Pieter Zulkifli menilai bila Perdebatan stand-up comedy Mens Rea Di Pandji Pragiwaksono yang tayang Ke platform Dunia Netflix adalah ilustrasi Memikat sekaligus mengkhawatirkan bagaimana dua kekuatan besar humor dan politik dapat bertabrakan Untuk wacana publik.
Untuk pertunjukan itu, dia menilai Pandji menyampaikan sindiran yang Lalu ditafsirkan Di sebagian pihak sebagai komentar merendahkan Pada wajah Wakil Kepala Negara Gibran, Di kata-kata yang menggambarkan ekspresinya ‘seperti orang mengantuk’.
“Penilaian semacam ini, Kendati dibungkus humor, telah memicu perdebatan Ke ruang publik serta laporan Hingga aparat penegak hukum Di beberapa kelompok Kelompok,” imbuhnya.
Artikel ini disadur –> Sindonews Indonesia News: Polemik Pandji-Gibran Membuka Debat Batas Penilaian











